Pagi ini adalah hari
untuk melakukan petualangan kembali ke desa. Melalui turun lapang kolaborasi 2
mata kuliah, yakni Perubahan Sosial dan Sosiologi Pedesaan akhirnya
menghantarkan saya untuk dapat menghirup udara segar desa dan rehat sejenak
dari hiruk-pikuk Darmaga dan kampus. Saya
berangkat sekitar pukul 06.20 WIB menuju
Green TV untuk berkumpul bersama teman-teman turun lapang lainnya.
Bapak Sofyan, Bapak
Fredian Tonny, dan Bapak Dwi Sadono memberikan pengarahan singkat dan pesan
kepada kami untuk dapat menjaga sikap dan memaksimalkan turun lapang ini.
Selanjutnya, sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan angkot Wates Jaya, Cigombong,
dan Tugu Jaya melaju menuju tempat tujuan, namun sebelumnya kami singgah dahulu
di daerah pengambilan bibit untuk ditanam di desa.
Perjalanan yang
mengasyikan. Ketika di angkot, saya dan teman-teman rombongan banyak berbincang
tentang banyak hal. Suasana hari ini mengalir ditambah semilirnya angin yang
menemani perjalanan kami. Udara hari ini segar. Ini harapan saya pribadi,
semoga turun lapang ini berkesan mendalam. Meski sudah beberapa kali mengikuti
turun lapang beberapa mata kuliah di SKPM, tetap saya berdoa semoga 3 hari ini
memberikan banyak ilmu dan manfaat.
Kami tiba di kantor
kecamatan sekitar pukul 10.00 WIB dan disambut oleh Bapak Camat. Beliau
memberikan wejangan kepada kami dan berfoto bersama. Agenda selanjutnya adalah
melaju tempat petualangan yang akan dimulai. Iya, Desa Wates Jaya, RW 4. Wow,
ternyata cukup jauh juga jaraknya dari kantor desa. RW 4 terletak di dalam
Taman Lido. Sekali lagi “Don’t judge book
from the cover” , hehe. Mau tahu kenapa? Karena yang awalnya kami telah
mengira akan ditempatkan di rumah elit, karena dari luar taman Lido telihat
tempat yang elit dan megah-megah bangunannya.
Ternyata oh ternyata,
jalan menuju RW 4 masih jauh masuk ke dalam. Banyak perjuangan yang mewarnai
langkah kami menuju desa tujuan. Akhirnya, sambil menunggu teman-teman
laki-laki yang sholat jum’at di sekitar Taman Lido, kami (Tara, Destya, dan
saya) bertanya kepada salah seorang petugas patroli letak RW 4 dengan Ketua RW
nya Bapak Wawan. Bapak petugas patroli tersebut sungguh baik, akhirnya kami diantarkan
ke lokasi.
Kami tiba di RW 4
sekitar pukul 13.30 WIB. Bapak Wawan selaku Ketua RW menyambut kami (saya,
Faris 1, Faris 2, Tara, dan Destya) dengan sangat ramah. Kami dijamu beberapa
waktu sambil meregangkan otot-otot yang lumayan kaku setelah perjalanan yang
cukup lama. Ada Ibu RW dan Galih, putra bungsu Bapak Wawan di rumah. Saya
serasa bertemu keluarga di rumah, jadi kangen sama keluarga.
Kami selanjutnya
diantarkan oleh Ibu RW menuju rumah yang akan ditempati selama 3 hari 2 malam
selama di desa Wates Jaya. Pemilik rumah bernama Ibu Nur, beliau menerima kami
dengan sangat baik, akhirnya kami segera beristirahat dan berbincang-bincang
mengenai teknis turlap. Karena perut terasa lapar, kami memutuskan untuk
membeli mie ayam di jalan yang telah kami lewati sebelumnya. Sambil menyantap
mie ayam yang enak sekali, kami mengobrol dan menciptakan suasana keakraban
satu sama lain untuk kelompok kloter pertama ini. Suasana desa ini nyaman dan
udaranya segar. Makin membuat betah untuk berlama-lama di desa, hehe.
Agenda selanjutnya
adalah pulang kembali ke rumah singgah karena hujan deras turun. Pada malam
harinya, kami kedatangan tamu dari Ketua Karang Taruna, Aa’ Andri dan kedua
anggota karang taruna. Mereka menyambut kami dengan sangat baik. Dalam perbincangan
ini, kami dan para pemuda desa ini saling bertukar pikiran dan menjalin
komunikasi untuk membangun keakraban, karena selama 2 hari ke depan, kami akan
banyak berkutat dengan warga di sini.
Di tengah perbincangan
dengan pemuda karang taruna, teman-teman kloter 2 (Gerry, Ipeh, Suci, Henny,
dan Anggita) tiba. Kami menyambut mereka dan mempersilahkan teman-teman untuk
istirahat sejenak. Agenda hari ini memang lebih untuk menjalin keakraban
kelompok agar keesokan harinya kelompok mulai menyatu dan kompak. Selanjutnya,
kami mulai membagi tugas untuk wawancara besok, memburu informasi dari
narasumber mengenai etnis di desa, dan menyusuri kehidupan desa.
![]() |
| Keluarga "Kenari" :) |
Sabtu,
31 Mei 2014
Perjalanan turun lapang
Perubahan Sosial dan Sosiologi Pedesaan pada hari sungguh berkesan. Kesan
mungkin tak bisa hanya didapat secara sekejab, termasuk kebersamaan kelompok 8
(Tara, Faris 2, Ipeh, Destrya, Suci, Henny, Gerry, Anggita, dan saya sendiri
Ichris) bangun. Saya merasakan hal yang sebenarnya sudah beberapa kali dialami,
namun kali ini benar-benar pengalaman yang berbeda dan sangat berkesan.
Hal pertama yang
terlintas adalah bagaimana cara menyesuaikan dan berbaur dengan teman-teman
sekelompok yang baru akan dikenal lebih dalam, meskipun sebenarnya sebelumnya
telah saling mengenal. Hari Sabtu ini adalah langkah awal kami untuk menggali
informasi sebanyak-banyaknya tentang kehidupan desa Ciletuh Girang, Wates Jaya.
Mahasiswa memang menjadi sebutan yang sangat dihargai di desa ini. Hal ini
tercermin dari sambutan warga yang sangat baik menerima kedatangan kami dari
kemarin siang.
Pagi ini adalah
pengalaman dapat bangun tidur dan dapat melihat teman-teman secara lebih dekat
dari tidur semalam, bangun tidur hingga beraktivitas. Bangun pagi sekitar pukul
lima lewat, karena semalam tidur begadang. Selanjutnya, kami memulai aktivitas
dengan sarapan bersama dan memulai penjelajahan kami keliling seputar desa
untuk mengali informasi seputar etnis di desa ini. Udara segar desa yang saya
rasakan sungguh menentramkan. Pohon-pohon hijau rindang masih banyak ditemui di
sepanjang jalan sekitar rumah warga. Memang anugerah yang patut disyukuri dapat
berkunjung ke desa ini.
Ramah adalah kata awal
yang memang melekat untuk orang Indonesia pada umumnya. Hal ini memang ada pada
sosok para warga dan orang-orang yang memiliki posisi penting di sini.
Narasumber pertama yang kami kunjungi adalah Bapak Wawan, selaku Ketua RW 4.
Ketika kami berada di rumahnya, sambutan Ibu RW begitu baik. Kami berbincang
untuk menanyakan Bapak RW apakah sedang
berada di tempat atau tidak.
Ternyata Bapak RW
sedang berada di kebun, sehingga kami lebih banyak berbincang dengan Ibu RW
untuk mengetahui tokoh-tokoh desa yang dapat menjadi informan kami. Kami
belajar dari masyarakat mengenai banyak hal, salah satunya adalah cara menyambut
pendatang dengan keramahan. Ibu RW mengantarkan kami ke tempat kebun yang
menjadi tempat warga desa ini mencari nafkah. Jalan menuju kebun dilewati
dengan kebersamaan dan tawa riang kami. Keriangan ini diwarnai pula dengan
keseriusan, karena kami berada di desa ini adalah untuk belajar dan menggali
informasi etnis. Ketika kami sampai di kebun, terdapat Bapak RT 1 pula yang
tengah bekerja bakti bersama warga untuk memperbaiki infrasrtuktur jalan. Dari
sekilas melihat interaksi warga, memang warga di desa ini memiliki tingkat
gotong-royong dan kerjasama yang tinggi.
Narasumber kedua yang
saya jumpai dengan teman-teman adalah Ketua RT 1, Bapak Djuhaeni (42 tahun). Beliau
adalah warga asli desa Ciletuh Girang. Kami banyak berbincang seputar sejarah
desa, perubahan sosial kaum warga asli desa dan kaum pendatang. Perbincangan
ini berujung pada kesimpulan bahwa RW 4 memiliki jumlah pendatang yang tidak
terlalu banyak dan dikatakan minoritas.
Banyak narasumber yang
kami datangi hari ini. Kelompok kami ada yang disebar untuk mewawancarai
narasumber dan ada yang bersama-sama memburu informasi. Saya dan teman-teman
kebetulan berkesempatan untuk mewawncarai Ketua RT 2 yang merupakan kakak
kandung Bapak RW, selanjutnya wawancara mantan ketua RW periode kemarin, Bapak
Mislan (pengusaha keripik pisang yang merupakan pendatang dari Lumajang).
Perjalanan hari ini
memang agak melelahkan karena harus memburu banyak narasumber untuk menggali informasi mengenai keberadaan etnis pendatang di sini. Ketika berkunjung ke
rumah Bapak Mislan, beliau dan istri memberikan sambutan keramahan dan
kehangatan. Kebetulan cuaca sedang hujan deras, akhirnya saya dan teman-teman
kelompok berbincang dan sharing dengan
Bapak Mislan dan Ibu Empat.
Bapak Mislan memang
telah lama tinggal di desa Wates Jaya, yang didominasi etnis lokal, Sunda.
Akhirnya beliau lebih banyak melakukan asimilasi budaya Sunda, namun tidak
meninggalkan budaya jawanya. Kami juga disuguhkan beraneka rasa keripik pisang
dan kami juga membeli keripik untuk oleh-oleh. Narasumber selanjutnya adalah
Abang Ai’, pendatang dari Jakarta yang menggagas english club. Setelah cukup jauh berjalan menyusuri jalan yang
sedikit becek setelah hujan, akhirnya kami berhasil menemulan rumahnya.
Rumah yang bagus, rapi,
asri, dan dengan pekarangan cukup luas. Terlihat, Abang Ai’ orang yang
berpendidikan tinggi dan ramah namun dengan gaya nyentrik ala anak muda
menyambut kedatangan kami. Setelah beliau siap diwawancarai, akhirnya
perwakilan dari kami menanyakan mengenai perubahan yang dialami ketika masuk
sebagai pedatang di desa ini, kisah beliau merintis english club tanpa dipungut biaya untuk anak di desa. Saya salut
dan merasa termotivasi dengan kisah beliau yang memang menjadi pejuang desa,
itulah sebutan yang cocok untuknya. Beliau memberikan ilmu dan apa yang
diketahuinya yakni bahasa inggris dan kegiatan outbond yang tengah dikelolanya untuk membantu anak-anak di desa
lebih maju.
Setelah mendapatkan
informasi dari narasumber selama seharian ini, dari pukul 08.00 WIB hingga
pukul 18.00 WIB, kami pulang ke rumah singgah untuk sejenak mandi, sholat
maghrib, dan istirahat sejenak. Petualangan kami belum usai, karena setelah
isya’ kami diundang menghadiri pertemuan IREMA (Ikatan Remaja Masjid) dan Karang
Taruna untuk sharing dan bertukar
pikiran di kediaman Bapak RW. Kami banyak berdiskusi mengenai permasalahan desa
dan pertanian. Pengalaman seharian ini memnag memberikan kesan mendalam. Iya,
kehidupan di RW 4 Desa Wates Jaya masih guyub, rukun, dan semua warganya mulai
dari pemuda hingga orang tua bergerak untuk mengembangkan desa dan memajukan
desa. Tak ada perbedaan antara warga lokal Sunda ataupun warga pendatang.
Semuanya berada dalam satu titik, untuk bergerak maju.
Minggu,
1 Juni 2014
Hari
ini adalah hari terakhir kami di desa. Saya dan teman-teman lebih banyak
mempersiapkan barang-barang dan merapikannya untuk persiapan pulang pada pukul
10.00 WIB menuju kampus kembali. Sebenarnya susah untuk beranjak pulang, karena
saya merasa sudah mulai dengan kelompok. Sampai akhirnya kami menamakan
kelompok kami “Keluarga Kenari” karena kami membawa bibit kenari dan sengon untuk
ditanam bersama warga desa.
Sekitar
pukul setengah 8, sarapan siap dan kami menyantap sarapan bersama di runag
tamu. Selanjutnya, pukul setengah 9 kami menuju rumah Bapak RW untuk menitipkan
barang-barang, karena kami akan menuju TPU (Tempat Pemakaman Umum) untuk
menanam 10 bibit. Ibu RW mengantarkan kami menuju TPU. Tiba di sana, telah
berkumpul banyak warga yang memang telah memiliki agenda untuk kerja bakti TPU.
Saya menangkap keguyuban warga di desa ini. Aksi kolektif mereka masih kental
terlihat. Rasa gotong-royong mereka masih begitu tinggi. Dalam benak, saya
berpikir inilah gambaran desa sebenarnya dengan suasana kebersamaan warganya
yang sungguh tinggi.
Setelah
penanaman semua bibit, kami berpamitan pulang kepada Bapak RW dan semua warga.
Ibu RW mengantarkan kami kembali ke rumah beliau dan mengambil barang-barang.
Susana haru sempat terlintas menyambut kepulangan kami menuju kampus kembali.
Saya rasa 3 hari memang belum cukup untuk menggali informasi, tapi sekali lagi
kesan mendalam sudah saya dapatkan. Saya doakan semoga RW 4 Wates Jaya makin
guyub rukun warganya, makin maju pertaniannya, dan dapat segera merealisasikan
impiannya untuk menjadi desa wisata. Perjalanan akan dimulai kembali menuju
kampus dan terimakasih dihaturkan untuk semua warga RW 4 Desa Wates Jaya yang
telah menerima kami dengan begitu baik. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar