Senin, 09 Juni 2014

3 Hari Belajar dari Desa

Jum’at, 30 Mei 2014
Pagi ini adalah hari untuk melakukan petualangan kembali ke desa. Melalui turun lapang kolaborasi 2 mata kuliah, yakni Perubahan Sosial dan Sosiologi Pedesaan akhirnya menghantarkan saya untuk dapat menghirup udara segar desa dan rehat sejenak dari hiruk-pikuk Darmaga dan kampus. Saya berangkat sekitar pukul 06.20 WIB menuju Green TV untuk berkumpul bersama teman-teman turun lapang lainnya.

Bapak Sofyan, Bapak Fredian Tonny, dan Bapak Dwi Sadono memberikan pengarahan singkat dan pesan kepada kami untuk dapat menjaga sikap dan memaksimalkan turun lapang ini. Selanjutnya, sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan angkot Wates Jaya, Cigombong, dan Tugu Jaya melaju menuju tempat tujuan, namun sebelumnya kami singgah dahulu di daerah pengambilan bibit untuk ditanam di desa.

Perjalanan yang mengasyikan. Ketika di angkot, saya dan teman-teman rombongan banyak berbincang tentang banyak hal. Suasana hari ini mengalir ditambah semilirnya angin yang menemani perjalanan kami. Udara hari ini segar. Ini harapan saya pribadi, semoga turun lapang ini berkesan mendalam. Meski sudah beberapa kali mengikuti turun lapang beberapa mata kuliah di SKPM, tetap saya berdoa semoga 3 hari ini memberikan banyak ilmu dan manfaat.
Kami tiba di kantor kecamatan sekitar pukul 10.00 WIB dan disambut oleh Bapak Camat. Beliau memberikan wejangan kepada kami dan berfoto bersama. Agenda selanjutnya adalah melaju tempat petualangan yang akan dimulai. Iya, Desa Wates Jaya, RW 4. Wow, ternyata cukup jauh juga jaraknya dari kantor desa. RW 4 terletak di dalam Taman Lido. Sekali lagi “Don’t judge book from the cover” , hehe. Mau tahu kenapa? Karena yang awalnya kami telah mengira akan ditempatkan di rumah elit, karena dari luar taman Lido telihat tempat yang elit dan megah-megah bangunannya.

Ternyata oh ternyata, jalan menuju RW 4 masih jauh masuk ke dalam. Banyak perjuangan yang mewarnai langkah kami menuju desa tujuan. Akhirnya, sambil menunggu teman-teman laki-laki yang sholat jum’at di sekitar Taman Lido, kami (Tara, Destya, dan saya) bertanya kepada salah seorang petugas patroli letak RW 4 dengan Ketua RW nya Bapak Wawan. Bapak petugas patroli tersebut sungguh baik, akhirnya kami diantarkan ke lokasi.
Kami tiba di RW 4 sekitar pukul 13.30 WIB. Bapak Wawan selaku Ketua RW menyambut kami (saya, Faris 1, Faris 2, Tara, dan Destya) dengan sangat ramah. Kami dijamu beberapa waktu sambil meregangkan otot-otot yang lumayan kaku setelah perjalanan yang cukup lama. Ada Ibu RW dan Galih, putra bungsu Bapak Wawan di rumah. Saya serasa bertemu keluarga di rumah, jadi kangen sama keluarga.

Kami selanjutnya diantarkan oleh Ibu RW menuju rumah yang akan ditempati selama 3 hari 2 malam selama di desa Wates Jaya. Pemilik rumah bernama Ibu Nur, beliau menerima kami dengan sangat baik, akhirnya kami segera beristirahat dan berbincang-bincang mengenai teknis turlap. Karena perut terasa lapar, kami memutuskan untuk membeli mie ayam di jalan yang telah kami lewati sebelumnya. Sambil menyantap mie ayam yang enak sekali, kami mengobrol dan menciptakan suasana keakraban satu sama lain untuk kelompok kloter pertama ini. Suasana desa ini nyaman dan udaranya segar. Makin membuat betah untuk berlama-lama di desa, hehe.

Agenda selanjutnya adalah pulang kembali ke rumah singgah karena hujan deras turun. Pada malam harinya, kami kedatangan tamu dari Ketua Karang Taruna, Aa’ Andri dan kedua anggota karang taruna. Mereka menyambut kami dengan sangat baik. Dalam perbincangan ini, kami dan para pemuda desa ini saling bertukar pikiran dan menjalin komunikasi untuk membangun keakraban, karena selama 2 hari ke depan, kami akan banyak berkutat dengan warga di sini.

Di tengah perbincangan dengan pemuda karang taruna, teman-teman kloter 2 (Gerry, Ipeh, Suci, Henny, dan Anggita) tiba. Kami menyambut mereka dan mempersilahkan teman-teman untuk istirahat sejenak. Agenda hari ini memang lebih untuk menjalin keakraban kelompok agar keesokan harinya kelompok mulai menyatu dan kompak. Selanjutnya, kami mulai membagi tugas untuk wawancara besok, memburu informasi dari narasumber mengenai etnis di desa, dan menyusuri kehidupan desa. 
Keluarga "Kenari" :)


Sabtu, 31 Mei 2014
Perjalanan turun lapang Perubahan Sosial dan Sosiologi Pedesaan pada hari sungguh berkesan. Kesan mungkin tak bisa hanya didapat secara sekejab, termasuk kebersamaan kelompok 8 (Tara, Faris 2, Ipeh, Destrya, Suci, Henny, Gerry, Anggita, dan saya sendiri Ichris) bangun. Saya merasakan hal yang sebenarnya sudah beberapa kali dialami, namun kali ini benar-benar pengalaman yang berbeda dan sangat berkesan.

Hal pertama yang terlintas adalah bagaimana cara menyesuaikan dan berbaur dengan teman-teman sekelompok yang baru akan dikenal lebih dalam, meskipun sebenarnya sebelumnya telah saling mengenal. Hari Sabtu ini adalah langkah awal kami untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang kehidupan desa Ciletuh Girang, Wates Jaya. Mahasiswa memang menjadi sebutan yang sangat dihargai di desa ini. Hal ini tercermin dari sambutan warga yang sangat baik menerima kedatangan kami dari kemarin siang.

Pagi ini adalah pengalaman dapat bangun tidur dan dapat melihat teman-teman secara lebih dekat dari tidur semalam, bangun tidur hingga beraktivitas. Bangun pagi sekitar pukul lima lewat, karena semalam tidur begadang. Selanjutnya, kami memulai aktivitas dengan sarapan bersama dan memulai penjelajahan kami keliling seputar desa untuk mengali informasi seputar etnis di desa ini. Udara segar desa yang saya rasakan sungguh menentramkan. Pohon-pohon hijau rindang masih banyak ditemui di sepanjang jalan sekitar rumah warga. Memang anugerah yang patut disyukuri dapat berkunjung ke desa ini.

Ramah adalah kata awal yang memang melekat untuk orang Indonesia pada umumnya. Hal ini memang ada pada sosok para warga dan orang-orang yang memiliki posisi penting di sini. Narasumber pertama yang kami kunjungi adalah Bapak Wawan, selaku Ketua RW 4. Ketika kami berada di rumahnya, sambutan Ibu RW begitu baik. Kami berbincang untuk menanyakan Bapak RW apakah sedang  berada di tempat atau tidak.

Ternyata Bapak RW sedang berada di kebun, sehingga kami lebih banyak berbincang dengan Ibu RW untuk mengetahui tokoh-tokoh desa yang dapat menjadi informan kami. Kami belajar dari masyarakat mengenai banyak hal, salah satunya adalah cara menyambut pendatang dengan keramahan. Ibu RW mengantarkan kami ke tempat kebun yang menjadi tempat warga desa ini mencari nafkah. Jalan menuju kebun dilewati dengan kebersamaan dan tawa riang kami. Keriangan ini diwarnai pula dengan keseriusan, karena kami berada di desa ini adalah untuk belajar dan menggali informasi etnis. Ketika kami sampai di kebun, terdapat Bapak RT 1 pula yang tengah bekerja bakti bersama warga untuk memperbaiki infrasrtuktur jalan. Dari sekilas melihat interaksi warga, memang warga di desa ini memiliki tingkat gotong-royong dan kerjasama yang tinggi.

Narasumber kedua yang saya jumpai dengan teman-teman adalah Ketua RT 1, Bapak Djuhaeni (42 tahun). Beliau adalah warga asli desa Ciletuh Girang. Kami banyak berbincang seputar sejarah desa, perubahan sosial kaum warga asli desa dan kaum pendatang. Perbincangan ini berujung pada kesimpulan bahwa RW 4 memiliki jumlah pendatang yang tidak terlalu banyak dan dikatakan minoritas.

Banyak narasumber yang kami datangi hari ini. Kelompok kami ada yang disebar untuk mewawancarai narasumber dan ada yang bersama-sama memburu informasi. Saya dan teman-teman kebetulan berkesempatan untuk mewawncarai Ketua RT 2 yang merupakan kakak kandung Bapak RW, selanjutnya wawancara mantan ketua RW periode kemarin, Bapak Mislan (pengusaha keripik pisang yang merupakan pendatang dari Lumajang).

Perjalanan hari ini memang agak melelahkan karena harus memburu banyak narasumber untuk menggali informasi mengenai keberadaan etnis pendatang di sini. Ketika berkunjung ke rumah Bapak Mislan, beliau dan istri memberikan sambutan keramahan dan kehangatan. Kebetulan cuaca sedang hujan deras, akhirnya saya dan teman-teman kelompok berbincang dan sharing dengan Bapak Mislan dan Ibu Empat.

Bapak Mislan memang telah lama tinggal di desa Wates Jaya, yang didominasi etnis lokal, Sunda. Akhirnya beliau lebih banyak melakukan asimilasi budaya Sunda, namun tidak meninggalkan budaya jawanya. Kami juga disuguhkan beraneka rasa keripik pisang dan kami juga membeli keripik untuk oleh-oleh. Narasumber selanjutnya adalah Abang Ai’, pendatang dari Jakarta yang menggagas english club. Setelah cukup jauh berjalan menyusuri jalan yang sedikit becek setelah hujan, akhirnya kami berhasil menemulan rumahnya.

Rumah yang bagus, rapi, asri, dan dengan pekarangan cukup luas. Terlihat, Abang Ai’ orang yang berpendidikan tinggi dan ramah namun dengan gaya nyentrik ala anak muda menyambut kedatangan kami. Setelah beliau siap diwawancarai, akhirnya perwakilan dari kami menanyakan mengenai perubahan yang dialami ketika masuk sebagai pedatang di desa ini, kisah beliau merintis english club tanpa dipungut biaya untuk anak di desa. Saya salut dan merasa termotivasi dengan kisah beliau yang memang menjadi pejuang desa, itulah sebutan yang cocok untuknya. Beliau memberikan ilmu dan apa yang diketahuinya yakni bahasa inggris dan kegiatan outbond yang tengah dikelolanya untuk membantu anak-anak di desa lebih maju.

Setelah mendapatkan informasi dari narasumber selama seharian ini, dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB, kami pulang ke rumah singgah untuk sejenak mandi, sholat maghrib, dan istirahat sejenak. Petualangan kami belum usai, karena setelah isya’ kami diundang menghadiri pertemuan IREMA (Ikatan Remaja Masjid) dan Karang Taruna untuk sharing dan bertukar pikiran di kediaman Bapak RW. Kami banyak berdiskusi mengenai permasalahan desa dan pertanian. Pengalaman seharian ini memnag memberikan kesan mendalam. Iya, kehidupan di RW 4 Desa Wates Jaya masih guyub, rukun, dan semua warganya mulai dari pemuda hingga orang tua bergerak untuk mengembangkan desa dan memajukan desa. Tak ada perbedaan antara warga lokal Sunda ataupun warga pendatang. Semuanya berada dalam satu titik, untuk bergerak maju.

Minggu, 1 Juni 2014
Hari ini adalah hari terakhir kami di desa. Saya dan teman-teman lebih banyak mempersiapkan barang-barang dan merapikannya untuk persiapan pulang pada pukul 10.00 WIB menuju kampus kembali. Sebenarnya susah untuk beranjak pulang, karena saya merasa sudah mulai dengan kelompok. Sampai akhirnya kami menamakan kelompok kami “Keluarga Kenari” karena kami membawa bibit kenari dan sengon untuk ditanam bersama warga desa.

Sekitar pukul setengah 8, sarapan siap dan kami menyantap sarapan bersama di runag tamu. Selanjutnya, pukul setengah 9 kami menuju rumah Bapak RW untuk menitipkan barang-barang, karena kami akan menuju TPU (Tempat Pemakaman Umum) untuk menanam 10 bibit. Ibu RW mengantarkan kami menuju TPU. Tiba di sana, telah berkumpul banyak warga yang memang telah memiliki agenda untuk kerja bakti TPU. Saya menangkap keguyuban warga di desa ini. Aksi kolektif mereka masih kental terlihat. Rasa gotong-royong mereka masih begitu tinggi. Dalam benak, saya berpikir inilah gambaran desa sebenarnya dengan suasana kebersamaan warganya yang sungguh tinggi.

Setelah penanaman semua bibit, kami berpamitan pulang kepada Bapak RW dan semua warga. Ibu RW mengantarkan kami kembali ke rumah beliau dan mengambil barang-barang. Susana haru sempat terlintas menyambut kepulangan kami menuju kampus kembali. Saya rasa 3 hari memang belum cukup untuk menggali informasi, tapi sekali lagi kesan mendalam sudah saya dapatkan. Saya doakan semoga RW 4 Wates Jaya makin guyub rukun warganya, makin maju pertaniannya, dan dapat segera merealisasikan impiannya untuk menjadi desa wisata. Perjalanan akan dimulai kembali menuju kampus dan terimakasih dihaturkan untuk semua warga RW 4 Desa Wates Jaya yang telah menerima kami dengan begitu baik. :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar