Senin, 22 Agustus 2016

'Sejuk'

via: bundagawul.wordpress.com

Mentari bersinar menerangi bumi yang hijau. Rasanya aku ingin menjadi mentari itu, yang dapat memberikan kehangatan pada setiap jiwa yang tengah resah. Aku mulai hari-hariku dengan pengharapan yang besar. Berharap alam ini akan bersinergi membantuku mewujudkan asaku untuk mendapatkan kesejukan hidup.
Di mulai pada bulan Januari 2017. Catatan yang ingin aku rangkum dalam kisah sederhana. Hujan gerimis di awal tahun ini tengah membasahi rerumputan yang tengah menghijau. Membasahi pula alam yang tengah terdiam menatap langit biru.

“Hei, kamu yang duduk di situ, ngapain? Nggak lihat kalau lagi hujan gini?” pinta seorang laki-laki yang tak aku hiraukan.
Aku tengah duduk termangu di tengah taman yang menghijau. Aku lantas tak menghiraukan suara laki-laki itu. Diam itu emas untuk kali ini.
“Mbak, sebentar lagi kayaknya hujan deras lho, taman juga sepi gini, ngapain juga duduk di situ sendirian? Ayuk ikut saya berteduh!” bujuk laki-laki itu lagi yang kali ini aku dengarkan seksama.

Dia mulai mendekat ke arahku. Aku tak mengerti kenapa dia begitu peduli. Diapun tak tahu siapa aku. Apa sebenarnya yang ia inginkan.
“Mbak, ayolah berdiri. Nanti kalau sakit gimana? Hujannya semakin deras. Saya nggak mau disalahkan kalau ada orang yang pingsan di sini karena menggigil kedinginan,” pinta dia sekali lagi.
“Apa maumu? Kamu nggak kenal aku. Jangan sok pahlawan. Aku akan pergi. Jangan sok menasehati,” bentakku
padanya.


Aku mulai berdiri dan bergegas meninggalkan laki-laki itu. Aku tak melihat wajahnya ketika berbicara. Tapi, aku merasakan auranya yang sebenarnya tidak bermaksud menasehati. Iya, aku memang salah. Tak seharusnya sikapku seperti itu pada orang yang berniat baik padaku.
“Mbak, bukan maksud saya seperti itu. Saya bekerja di sini sebagai pembersih taman. Saya juga yang bertanggungjawab kalau ada apa-apa dengan taman ini. Termasuk kalau ada pengunjung yang datang, maka saya juga harus bertanggungjawab, “ jelasnya.
Aku mempercepat langkah. Aku tak mempedulikan omongannya. Biarkanlah dia berbicara sesuka hati. Aku sedang tak ingin mendengarkan apapun. Tapi, dengan picisan lirikanku sejenak, dia telah berteduh di emperan plant house di samping taman. Aku belum beranjak keluar dari taman ini. Aku berdiri di depan gerbang taman.
Tiba-tiba dari belakang, ada suara langkah kaki yang menghampiriku. Aku bisa mendengar dan merasakannya.
“Shannaz, itu kamu?” suara seseorang yang menghampiriku.
Ternyata, dia adalah Dedi, seorang sahabat yang telah menemaniku hampir setengah umurku. Dia adalah orang yang berjasa menyelamatkanku dari kecelakaan yang menimpaku dua tahun lalu.
“Iya, ini Shannaz, sahabat De. Makasi ya De, kamu tetap baik padaku. Padahal, sudah banyak hal yang tak seharusnya aku lakukan padamu,” ucapku lirih.
“Shannaz, kamu ngomong apa sih? Aku tetep sahabat kamu dari dulu hingga sekarang. Tak perlu memikirkan hal yang berat, nanti kamu drop lagi.”
“Iya, ini semua berkat pertolongan kamu. Kalau aja dulu nggak ada yang nolongin aku waktu ditabrak lari, entahlah gimana nasib umurku. Kamu emang orang yang selalu ada De buat aku.”
“Shan, tenang aja nggak perlu dipikirkan yang dulu. Aku menolong kamu karena itu adalah tugas setiap manusia yang harus menolong sesamanya.”

Aku tersenyum lega. Perasaanku lebih tenang kalau bersamanya. Dia selalu datang tepat saat aku membutuhkan seseorang yang membuatku lebih tenang. Dia datang tanpa mengenal ukuran waktu dan tempat. Anganku melambung tinggi, apakah Dedi orang yang akan menemaniku di sisa umurku ini. Entahlah, yang pasti dia sahabatku sekaligus pahlawanku. Dia seperti saudaraku sendiri. Tapi, aku berharap lebih.

“Hei, bengong lagi. Shaaaaaan, “ teriak Dedi yang mengagetkanku yang entah tadi mengkhayal apa. Dia mengeluarkan payung dan memberikan perlindungan padaku dari hujan ini. Dia memayungiku juga.
“Apain sih Dee, aku nggak mikirin kamu lagi. GR BGT sih!,” celetukku.
“Hah, aku nanya apa, kamu jawab apa. Aku cuman bilang, hei bengong lagi. Wah ternyata ada yang salah fokus mikirin aku, haha,” kata Dedi sambil senyum-senyum menggodaku.
“Apaan coba, nggak lah, ngapain aku mikirin kamu, aku tadi salah ngomong aja kok. Maksud aku mau ngomong aku nggak lagi berfikir apa-apa kok. Tapi, aku mau cerita soal kejadian di taman tadi.”
“Ada kejadian apa di taman?”
“Aku tadi bertemu dengan laki-laki yang baik hati, meski aku cuekin dia tetep aja nasehatin aku supaya aku berteduh. Tapi, aku nggak menghiraukan dia. Aku nggak lihat wajahnya. “
“Wah, dia naksir kali sama kamu, hehe,” pendapat Dedi yang begitu mengagetkanku. Ekspresinya menampakkan binar senyum.
Tak biasanya dia bercanda padaku dengan nada seperti itu. Bagaimana sebenarnya perasaan Dedi padaku. Aku ingin tahu. Karena sejatinya aku menaruh rasa padanya. Namun, rasa ini hanya aku pendam dalam diam. Namun, ingatanku pada laki-laki di taman tadi masih terekam jelas. Suaranya masih terngiang di telingaku. Dalam hati, aku hanya dapat bertanya-tanya.
***Seminggu kemudian...

Aku datang lagi ke taman kota. Ini adalah tempat pertemuanku dengan lelaki penjaga taman itu. Aku tak menyangka bisa melihat wajahnya begitu jelas. Dia tengah menyapu daun-daun yang berserakan. Aku yakin itu dia. Entah, mengapa perasaanku masih kuat padanya. Padahal, namanya pun tak ku ketahui. Aku terus memutar otakku, rasanya aku pernah melihatnya. Aku berusaha mengingatnya dengan keras. Setelah aku berhasil mengingatnya, ternyata dia sudah berdiri di hadapanku. 
“Apakah kamu berhasil mengingatku, Shannaz? Sebelum kamu marah padaku, maafkan aku, tolong maafkan aku. Aku telah menghilangkan ingatanmu  selama 2 tahun ini. Tapi, aku berusaha menebusnya dengan merawat taman ini untukmu selama ini. Aku tak melanjutkan sekolah lagi selepas SMA,” kata laki-laki itu sambil memegang erat lenganku.
Aku terdiam. Buncahan kemarahan ingin aku lampiaskan padanya setelah semua memori ingatanku terkumpul. Iya, ternyata, Dedi adalah orang yang menabrakku dua tahun lalu. Tapi, dia juga yang merawat taman ini. Aku pernah bilang padanya, bahwa saat kejadian naas itu aku ingin pergi ke taman kota untuk melihat hijaunya rerumputan dan mekarnya bunga-bunga yang menawan. Aku ingin melihat taman dalam setiap pagiku. Karena hanya alam yang dapat menghilangkan kesesakanku akan kepahitan hidupku yang tak berumur lama karena penyakit gagal ginjal. Namun, semua terobati setelah kecelakaan itu terjadi.

Setelah aku sadar, Dedi yang selama ini menjadi penopang kehidupanku dengan men-tlansplantasikan satu ginjalnya untukku ternyata orang yang sebenarnya ingin aku benci karena peristiwa tabrak lari itu. Tapi, dia adalah orang yang sebenarnya memberikan kesejukan jiwa untukku. Keputusanku bulat. Kebaikan seseorang itu tak hanya terukur dengan wujud harfiahnya yang selalu murni baik. Kebaikan itu terkadang datang menghampiri dengan rasa sakit terlebih dahulu.

“Tanpa kamu minta, sejatinya kebaikanmu tak terukur oleh apapun De. Karena kebaikanmu telah berbalut dengan ketulusanmu. Terimakasih telah memberikan kesejukan alam ini untukku. Terimakasih karena telah menjadi bagian dalam kisah hidupku ini. Kamu sebenarnya adalah penyejuk hidupku yang sebenarnya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar